Tren Bunuh Diri Pada Anak (Refleksi Kasus Ngada dan Ende–Nuabosi)
Oleh Yohana A. Babo Raki
Seolah masalahnya belum cukup berat, sekarang kita dipaksa melihatnya lebih dekat. Bukan lagi angka di berita nasional yang terasa jauh, tapi kasus yang terjadi di wilayah seperti Kabupaten Ngada dan kawasan Nuabosi. Tempat yang selama ini identik dengan kehidupan sosial yang hangat, justru ikut terseret dalam fenomena yang sama.
Kasus-kasus bunuh diri pada anak di daerah ini jadi tamparan keras. Banyak orang mungkin masih berpikir, “ini kan masalah kota besar.” Kenyataannya, tekanan mental tidak kenal lokasi. Bahkan di daerah dengan komunitas yang erat sekalipun, anak-anak bisa merasa sangat sendirian.
Di Ngada dan Ende–Nuabosi, ada kombinasi faktor yang bikin situasi makin kompleks. Selain tekanan pribadi seperti masalah keluarga, pendidikan, atau pergaulan, ada juga beban sosial yang khas. Lingkungan yang saling mengenal memang bisa jadi kekuatan, tapi juga bisa jadi tekanan. Rasa malu, takut jadi bahan pembicaraan, atau keinginan menjaga nama baik keluarga sering membuat anak memilih diam daripada bicara.
Masalahnya, diam itu bukan solusi. Diam itu tempat pikiran buruk berkembang tanpa gangguan.
Belum lagi soal akses terhadap layanan kesehatan mental. Di kota besar, setidaknya ada pilihan untuk mencari bantuan profesional. Di daerah seperti Ngada atau Nuabosi, pilihan itu terbatas. Akhirnya, anak yang butuh bantuan justru tidak tahu harus ke mana. Dan orang dewasa di sekitarnya pun kadang tidak punya cukup pengetahuan untuk mengenali tanda bahaya.
Yang lebih menyedihkan, beberapa kasus sering disederhanakan. Dibilang “kurang iman,” “tidak kuat,” atau “terpengaruh hal negatif.” Padahal, kenyataannya jauh lebih dalam. Anak-anak ini bukan kekurangan moral, mereka kekurangan ruang aman untuk dipahami.
Kalau mau jujur, ini bukan cuma masalah anak-anak. Ini masalah kita semua yang sering telat mendengar.
Kasus di Ngada dan Ende–Nuabosi seharusnya jadi titik balik. Bahwa pendekatan lama tidak cukup lagi. Kita butuh perubahan cara pandang. Orang tua perlu belajar benar-benar hadir, bukan sekadar ada. Sekolah perlu jadi tempat aman, bukan cuma tempat nilai. Masyarakat juga perlu berhenti cepat menghakimi dan mulai lebih peduli.
Tidak ada solusi instan. Tapi ada satu hal yang jelas: setiap anak yang sampai pada titik itu, sebenarnya sudah memberi banyak “sinyal” sebelumnya. Hanya saja, sering tidak ada yang benar-benar melihat.
Dan kalau kita masih menganggap ini sekadar “kasus”, bukan “peringatan”, ya jangan heran kalau kejadian serupa terus berulang. Karena masalah yang diabaikan punya kebiasaan buruk: dia tidak hilang, dia menunggu giliran berikutnya.